Subscribe Us

Header Ads

Hidup Nyaman Dengan Perilaku Jujur

BAB II PAI Kelas XI: (Hidup Nyaman Dengan Perilaku Jujur)


Hidup Nyaman Perilaku Jujur


Assalamualaikum  warahmatullahi wabarakatuh, apa kabar semuanya? semoga selalu diberikan kesehatan dan kebahagian.  aminnn. 

Pertemuan kali ini kita akan membahas tentang Hidup Nyaman Perilaku Jujur. Tentunya kalian pasti sudah tau apa itu Jujur namun disini mari kita sama-sama belajar kembali mengenai tema  Hidup Nyaman Perilaku Jujur. Untuk itu yuk simak baik-baik literatur di bawah ini:

Jujur adalah mengatakan atau melakukan sesuatu sesuai dengan kenyataan. Lawan kata jujur adalah dusta. yaitu mengatakan atau melakukan sesuatu tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya. Jujur merupakan sebagian dari ruh agama. Barang siapa yang berbuat jujur ia akan memperoleh kebaikan dan sedang menuju surga.

Beberapa jenis  jujur dapat dilihat dari perilakunya yaitu jujur dalam berbuat, jujur dalam perkataan, jujur dalam niat, jujur dalam berjanji. Kejujuran bisa melemah karena melemahnya tekad kejujuran juga bisa melemah akibat pergaulan. Jujur bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja.

A. Pentingnya Perilaku Jujur

Allah swt. memerintahkan kepada kita untuk berlaku benar dan baik dalam perbuatan maupun ucapan, sebagaimana firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Artinya: wahai orang-orang yang beriman! bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (Qs.At-Taubah 9:119).

Kejujuran merupakan sifat seorang yang beriman, sedangkan lawannya dusta yang merupakan sikap munafik. ciri-ciri orang munafik adalah dusta, ingkar janji, khianat. sebagaimana sabda Rassulullah saw sebagai berikut:

Yang artinya: Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi Muhammad saw bersabda tanda orang munafik itu ada tiga yaitu apabila berbicara dusta, apabila berjanji mengingkari, dan apabila dipercaya berkhianat. (HR. Bukhari Muslim).

Ibnu Qayyim berkata, dasar keimanan adalah kejujuran (kebenaran) sedangkan dasar nifaq adalah  kebohongan atau kedustaan. Tidak akan perah bertemu kedustaan dengan keimanan melainkan akan saling bertentangan satu sama lain. Allah swt menegaskan bahwa tidak ada yang bermanfaat bagi seorang hamba dan mampu menyelamatkannya dari Azab kecuali kejujurannya (kebenarannya).
قَالَ اللَّهُ هَٰذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ ۚ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Artinya: Allah berfirman, ini adalah hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenarannya mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar. (Qs. Al-Maidah 5:119).

B. Keutamaan Perilaku Jujur

Nabi menganjurkan umatnya untuk selalu jujur. Karena kejujuran merupakan akhlak mulia yang mengarahkan pemiliknya kepada kebajikan, sebagaimana dijelaskan oleh Nabi Muhammad saw. Yang artinya: dari Abdullah ibn mas’ud dari Rasulullah saw, bersabda: sesungguhnya jujur itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga (HR.Bukhari).

Sifat jujur merupakan tanda ke Islaman seorang dan juga tanda kesempurnaan bagi si pemilik sifat tersebut. Pemilik kejujuran memiliki kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat. Dengan kejujurannya seorang akan mencapai derajat orang-orang yang mulia dan selamat dari segala keburukan.

Dapat lihat dalam kehidupan sehari-hari bahwa seseorang yang jujur akan dipermudah rezeki dan segala urusannya.  contoh yang dapat kita teladani seperti kejujurannya Nabi Muhammad saw dioercayai oleh Siti Khadijah untuk membawa barang dagangan lebih banyak lagi, Artinya Nabi Muhammad saw akan mendapat keuntungan yang lebih besar lagi dan tentu saja apa yang dilakukan Nabi Muhammad saw akan mendapat kemudahan. Dan sebalikna orang yang tidak jujur atau bohong akan dipersulit rezeki dan segala urusannya.

C. Macam-macam Kejujuran

Menurut tempatnya, jujur ada beberapa macam yaitu:

  1. Jujur dalam niat dan kehendak yaitu motivasi bagi setiap gerak dan langkah seseorang dalam rangka menaati perintah Allah swt. dan ingin mencapai Rida-Nya.
  2. Jujur dalam ucapan,  yaitu memberitakan sesuatu sesuai dengan realitas yang terjadi, kecuali untuk kemaslahatan yang dibenarkan oleh syari'at seperti dalam kondisi perang, mendamaikan dua orang dua orang yang bersengketa dan semisalnya. setiap hamba berkewajiban menjaga lisannya, yaitu berkata jujur dan tidak menyakiti hati orang lain.
  3. Jujur dalam perbuatan yaitu seimbang antara lahiriah dan batiniah sehingga tidaklah berbeda amal lahir dan amal batin. Jujur dalam perbuatan juga berarti melaksanakan suatu pekerjaan sesuai dengan yang di ridhai Allah swt dan melaksanakannya secara terus-menerus dan ikhlas.

D. Petaka Kebohongan

Ketika seseorang sudah berani menutupi kebenaran, bahkan menyelewengkan kebenaran untuk tujuan jahat, ia telah melakukan kebongongan. Kebohongan yang dilakukannya itu telah membawa kepada apa yang telah dikhianatinya. 

وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ.....
Artinya: .....Barangsiapa berkhianat niscaya pada hari kiamat dia akan datang membawa apa yang dikhiatkannya itu kemudian setiap orang akan diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang dilakukannya dan mereka tidak dizalimi. (Qs. Ali-Imran 3:161).

E. Hikmah Jujur

Beberapa hikmah yang dapat dipetik dari perilaku jujur, yaitu:

  1. Perasaan enak dan hati tenang , jujur akan membuat kita menjadi tenang. Tidak takut akan diketahui kebohongannya karena memang tidak berbohong.
  2. Mendapatkan kemudahan dalam hidupnya.
  3. Selamat dari azab dan bahaya.
  4. Dijamin masuk surga.
  5. Dicintai oleh Allah swt dan Rasul-Nya.

Sumber:

Buku paket siswa SMA XI (Kementrian pendidikan dan kebudayaan, Buku Siswa Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti. Jakarta: kementrian pendidikan dan kebudayaan, 2014)

Departemen Agama. 2000. Al-Qur'an dan Terjemahnya. Jakarta: UD Mekar Surabaya

Departemen Pendidikan Nasional Pusat Perbukuan Bagian Proyek Buku  Agama Pendidikan Dasar. 2002. Ensiklopedia Islam. Jakarta: PT. Ictiar Baru Van Hoeve.

Shabir, Muslieh. 1981. Terjemahan Riyadusshalihin. Semarang: CV. Toha Putra


Posting Komentar

0 Komentar